Apel…menggemaskan…

Posted: September 7, 2010 in Uncategorized

Kaya vitamin

Buah apel kaya akan kandungan vitamin. Beberapa vitamin yang terdapat dalam buah apel misalnya vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B5, vitamin B6, vitamin B9, vitamin C.

Kaya mineral

Buah apel mengandung banyak mineral. Mineral dalam buah apel antara lain kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan zinc.

Fitokimia

Buah apel juga mengandung fitokimia. Fitokimia merupakan antioksidan untuk melawan radikal bebas yang berasal dari polusi atau lingkungan sekitar. Zat ini juga berfungsi untuk menekan jumlah kolesterol jahat (LDL) yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.

Kaya Serat

Apel kaya akan serat, sehingga baik untuk orang yang sedang dalam program diet. Hal ini disebabkan karena serat yang tinggi sehingga mencegah lapar datang lebih cepat.

Serat untuk mengurangi lemak dan kolesterol

Buah apel mengandung serat yang berguna mengikat lemak dan kolesterol jahat dalam tubuh untuk selanjutnya dibuang.

Tanin

Buah apel juga memiliki kandungan tanin. Tanin adalah zat yang berfungsi membersihkan dan menyegarkan mulut, sehingga dapat mencegah kerusakan gigi dan penyakit gusi.

Baron

Di dalam buah apel terdapat baron. Apakah baron itu? Baron berfungsi mempertahankan jumlah estrogen dalam tubuh seorang wanita.

Flavoid

Salah satu kandungan buah apel yang baik untuk menjegah penyakit adalah flavoid. Flavoid merupakan zat yang berfungsi menurunkan risiko kanker.

Asam D-glucaric

Apakah Asam D-glucaric itu? Asam D-glucaric merupakan zat yang dapat menurunkan kadar kolesterol. Asam D-glucaric juga terdapat di dalam buah apel.

Quercetin

Quercetin merupakan zat yang dibutuhkan untuk meningkatkan kadar antioksidan sehingga tubuh terasa lebih sehat dan mencegah berbagai penyakit. Buah apel mengandung zat quercetin.

Asam tartar

Di dalam sebuah apel juga terdapat asam tartar. Asam tartar yang dapat menyehatkan saluran pencernaan, karena zat ini mampu membunuh bakteri yang ada dalam saluran pencernaan.

Melihat banyaknya unsur kesehatan yang dapat dimanfaatkan, tentu kita dapat mencoba untuk mengkonsumsi satu buah apel setiap hari.

Bunda Aku Ingin Sekolah…

Posted: September 7, 2010 in Uncategorized

Minat bersekolah yang ditunjukkan si batita biasanya hanya sebatas omongan. Namun, bukan tidak mungkin untuk “menyekolahkannya” di usia ini, asalkan syaratnya terpenuhi.

Kalau si batita gemar sekali memakai seragam sekolah kakaknya, membawa tas, atau berlaku seperti orang yang sedang membaca buku biasanya lantas muncul pertanyaan, apakah artinya si kecil sudah ingin sekolah? Dalam hati ada perasaan bangga juga, sih, kalau betul dia seperti itu, ya tidak?

Namun, keputusan untuk memasukkannya ke sebuah kelompok bermain jangan diambil terburu-buru, apalagi ke TK, sebab menurut Roslina Verauli, M.Psi., dari Empati Development Centre, Jakarta Selatan, perilaku tersebut belum tentu mengindikasikan bahwa anak ingin segera disekolahkan. Memakai seragam, membawa tas dan buku, atau merengek ingin ikut ke sekolah sebetulnya merupakan perilaku peniruan, karena, “Di usia ini anak sedang berada dalam fase peniruan dan eksplorasi,” ujar Vera, panggilan akrabnya.

Tidak heran kalau di usia 2-3 tahun, anak sangat menikmati permainan peran atau bermain pura-pura. Ia seringkali meniru perilaku apa pun yang dilihatnya. Entah dari orang tuanya, kakeknya, pengasuhnya, dan kalau dia bukan anak pertama, maka dia akan meniru kakaknya yang sudah memasuki usia prasekolah atau SD. Bisa jadi, “keinginan” itu juga muncul karena melihat kegiatan anak tetangga yang lebih besar. Misalnya, berpura-pura sedang berangkat ke sekolah, belajar di sekolah, sampai berpura-pura kalau dia sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Hal itulah yang seringkali diterjemahkan sebagai keinginan anak untuk disekolahkan. Terlebih, ketika ditanya misalnya, “Mau ke mana, Adek?” Ia menjawab, “Mau sekolah.” Namun, orang tua harap memaklumi, sebenarnya dia belum mengerti arti dari sekolah itu sendiri.

“Yang harus diingat, perilaku pura-pura ini didukung oleh keinginan anak untuk bereksplorasi dengan menunjukkan berbagai sikap,” lanjut Vera. Selain itu, kemampuan motorik kasar dan halusnya juga sudah mendukung. Dia bisa berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya. Imajinasinya pun sudah mulai tumbuh. Hanya saja ada anak yang lebih cepat berproses, ada juga yang lambat melakukannya. Ada anak awal 2 tahun sudah bisa bermain pura-pura, tetapi ada pula yang hingga usia 4 tahun belum bisa melakukannya.

LAKUKAN OBSERVASI

Jadi, meskipun perilaku anak sudah menunjukkan keinginan untuk bersekolah, orang tua sebaiknya tidak gegabah. Vera menganjurkan untuk melihat perilaku anak secara lebih cermat. Apakah ia sekadar meniru dan bereksplorasi, atau memang benar-benar ingin bersekolah.

Lihatlah gejala yang ditunjukkan anak. Biasanya, bila perilaku tersebut hanya timbul beberapa waktu saja dan setelah bosan ditinggalkannya, maka mungkin dia sekadar melakukan peniruan. Beda hal kalau anak intens melakukannya dan berulangkali mengungkapkan keinginannya, “Aku mau sekolah seperti Kakak!” mungkin anak memang benar-benar sudah ingin bersekolah. “Dari situ orang tua bisa menilai apakah keinginannya serius atau tidak,” sarannya.

Namun begitu, cermati keinginannya lebih jauh lagi. Mungkin karena anak tertarik pada arena bermain di sekolah kakak. Jadi, sebaiknya lakukan observasi lebih dalam. Soalnya, kebanyakan anak batita hanya tertarik bermain di halaman TK tanpa itikad belajar lebih jauh lagi.

Untuk memastikannya, ajaklah anak bermain ke “sekolah” kakak. Biarkan dia merasakan bersekolah itu seperti apa. Bila dia hanya asyik bermain di taman bermain, berarti terjawab bahwa keinginannya hanya sampai di situ. Kunjungan percobaan ini bisa dilakukan selama seminggu, secara reguler (2 kali seminggu), atau ikutkan dia dalam kelas percobaan jika pihak “sekolah” memiliki program demikian untuk mengetahui apakah anak memang benar-benar sudah berminat “sekolah” atau tidak.

SEKOLAHKAN BILA SERIUS

Bila anak benar-benar tertarik dan sudah mampu menerima instruksi sederhana, tak masalah bila kita segera memasukkannya ke “sekolah”. “Umumnya, setelah usia 2 tahun, kemampuan kognitifnya mulai berkembang dengan baik dan tidak lagi terfokus pada perkembangan motorik atau manipulasi objek,” papar Vera. Hal itu ditandai dengan perkembangan berbahasa yang sudah mulai kompleks dan kemampuan mengatasi masalah-masalah sederhana. “Bila kedua aspek itu sudah terlihat berkembang, oke-oke saja untuk memasukkan anak ke “sekolah”. Hal ini, kan, sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan sosialnya.”

Apalagi, kalau perkembangan bahasa anak sudah dibarengi dengan kemampuannya memahami konsep abstrak, meskipun belum berusia 3 tahun, silakan saja “disekolahkan” dalam kelompok bermain/playgroup. Pemahaman konsep abstrak atau sesuatu yang tidak terlihat ini misalnya, anak bisa membayangkan “sekolah” yang diucapkannya, “Di sekolah aku bisa bernyanyi, menari, bermain ayunan, dan sebagainya.”

Tak hanya itu, pemahaman akan konsep abstrak pun bisa dilihat lewat kemampuan anak memahami bunyi-bunyian. Misalnya, ketika dia sudah bisa mengetahui keberadaan tukang es krim lewat tuternya yang dibunyikan.

“Nah, kalau kemampuan berbahasa dan pemahaman konsep abstraknya sudah berkembang, berarti anak sudah mulai siap untuk ‘disekolahkan’ dan berhubungan dengan orang lain.”

Orang tua tidak perlu menunggu usia anak lebih besar bila anak sudah menunjukkan kemampuan tersebut. Soalnya, kesempatan untuk bisa belajar di lingkungan baru sangat baik untuk percepatan pertumbuhannya. Di “sekolah”, kan, anak bisa mengenal berbagai figur, ada guru, teman yang berbadan besar, bersuara lantang, ataupun yang bersuara lemah lembut. Anak juga bisa mengenal cara berbagi dan lainnya. Dengan begitu anak berada dalam situasi dimana dia bisa bersosialisasi, belajar, dan mengembangkan kognitifnya. Asalkan, proses pembelajarannya tidak melupakan jiwa anak yang masih dalam taraf bermain. “Hal ini lebih bermanfaat daripada bila anak hanya berkutat dengan mainan di dalam rumah,” tandas Vera.

Ia memang menyangkal anggapan yang mengatakan tidak baik “menyekolahkan” anak terlalu cepat, karena anak akan lekas bosan sekaligus kehilangan masa bermainnya. “Memang, banyak orang yang berpendapat demikian, tapi kita harus melihat ‘sekolah’ seperti apa yang membuat anak cepat bosan,” ujarnya. Bila yang dimaksud adalah sekolah formal, dimana semuanya serbaterstruktur: ada guru yang mengajar di kelas, jam pelajaran yang ketat, atau ada PR, tentu si batita akan cepat merasa bosan dan jenuh. Dengan begitu, dia pun kehilangan masa-masa bermainnya.

Namun, bila anak dimasukkan ke playgroup atau kelompok bermain yang menerapkan konsep bermain sambil belajar, tidak masalah. Misalnya, sekolah tersebut tidak mengajak anak untuk menghafal warna dan bentuk secara textbook, tidak harus bisa membaca, atau duduk rapi dalam kelas. Jika itu yang dilakukan, Vera setuju bila anak segera “disekolahkan”.

Apalagi kalau kita sendiri tidak bisa menjamin pemberian stimulasi yang optimal kepada anak, contohnya ketika anak bertanya, “Kayaknya awan itu dari tadi ngikutin kita aja, ya?” Kemungkinan akan dijawab, “Ya, memang dari sananya!” Jawaban singkat seperti ini membuat keingintahuan anak tidak tersalurkan dengan baik. Bila dia diperlakukan seperti itu terus, tentu rangsangan terhadap proses berpikirnya lemah dan anak tidak menjadi kreatif.

Berbeda bila pertanyaan itu diajukan ke gurunya di sekolah, mungkin jawaban yang keluar bersifat lebih merangsang pola pikir anak. Misalnya dijawab dengan, “Awan sebenarnya tidak mengikuti kita, tetapi karena ukurannya sangat besar dia seolah-olah mengikuti kita.” Sangat mungkin dari pertanyaan sederhana itu akan berkembang menjadi dialog di antara mereka. “Nah, inilah manfaat yang bisa didapat anak.”

DAMPINGI KALA PERTAMA KALI MASUK

Memang, aku Vera, keputusan untuk “menyekolahkan” si batita, biasanya mendatangkan kecemasan. Terutama mengenai pengalaman pertamanya di “sekolah” karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing. Untuk mengatasinya, berikan kesempatan kepada anak untuk menyesuaikan diri. Bila anak takut, beradalah di dalam kelas hingga 1-2 minggu atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Selanjutnya, baru lepaskan anak secara bertahap sambil menenangkannya. Ucapkan kata-kata yang membuatnya nyaman. “Lihat, Bu Gurunya baik sekali, kamu tidak perlu takut, ya!” misalnya. Jika anak sudah merasa nyaman, sudah waktunya meninggalkan anak bersama teman-temannya yang lain. Hal ini akan melatih kemandiriannya.

Diabetes….???

Posted: Agustus 15, 2010 in Uncategorized

Diabetes, atau lazimnya disebut dengan kencing manis memang sebuah penyakit yang membahayakan. Tapi apa diabetes itu penyakit..? berikut pembahasannya :

Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.

Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.

Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.

Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.

Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.

Hidup dalam Rumah Kaca

Posted: Agustus 15, 2010 in Uncategorized

Pada jaman sekarang ini, kita sulit sekali mendapatkan udara yang benar-benar segar. Dengan semakin majunya dunia ini, akan semakin panas juga dunia ini terasa. Banyak industri yang tidak memperhatikan efek negatif dari limbah yang dihasilkan. Mereka sebenarnya menyadari bahwa limbah yang mereka hasilkan bisa mencemari alam sekitar. Tapi mereka tidak bertindak apa-apa bahkan seakan-akan mereka menutup mata dan telinga.

Efek Rumah Kaca

Secara umum iklim merupakan hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik dimana parameter-parameternya adalah seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi  pada suatu tempat di muka bumi. Iklim merupakan suatu kondisi rata-rata dari cuaca, dan untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, diperlukan nilai rata-rata parameterparameternya selama kurang lebih 10 sampai 30 tahun. Iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini berawal dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu. Perpaduan antara proses-proses tersebut dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita pada kenyataan bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah, intensitas dan distribusinya.

Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi –disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.

Efek Rumah Kaca

Peristiwa alam ini menyebabkan bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia, karena jika tidak ada ERK maka suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin. Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2(Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.

Berubahnya komposisi GRK di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi. Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global.

Sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya. Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.

Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan suhu, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis pantai, musim kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin singkat, namun semakin tinggi intensitasnya, dan anomaly-anomali iklim seperti El Nino – La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hal-hal ini kemudian akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan, pengungsian besar-besaran, gagal panen, krisis pangan, banjir, wabah penyakit, dan lain-lainnya

Kristallagen…apa itu kristallagen ?, mungkin banyak orang yang nggak tau mahluk apa itu. Memang bukan bahasa yang lazim didengar oleh orang awam. Saya pun yang orang kantoran…eh pabrikan …baru aja denger istilah itu. Ada temen kantor yang sudah mencoba untuk membudidayakan kristallagen. Tapi ya cuman untuk konsumsi pribadi aja…bukan untuk dijual.

Tapi menurut saya, hal itu biasa dijadikan alternative bagi kita untuk bias menambah penghasilan. Sebelumnya saya nggak berani nyoba mengkonsumsi air hasil dari Kristallagen, tapi lama-kelamaan saya coba aja….daripada penasaran. Eh..ternyata rasanya seperti air Legen ( mungkin kalo dalam bahasa Indonesia adalah air aren). Ternyata Air Kristallagen amat banyak gunanya.

Menurut artikel yang pernah saya baca, Kristallagen sangat berguna untuk :

1. Penyakit darah tinggi, ginjal, jantung dan penyakit dalam.

2. Mencegah penyebaran sel-sel kanker.

3. Asma dan kurang darah.

Nah…ternyata sangatlah berguna Kristallagen tersebut khan….dan cara buatnyapun tidak sulit.

Begini cara buatnya :

1. 3 sendok the Kristal Algae ditaruh dalam wadah palstik, diberi 2 sendok the gula pasir dan 7 buah kismis kering yang dicuci dan tidak mengandung Sulfur

2. Semua itu diberi air sebanyak 1 liter, ditutup wadahnya dan didiamkan semalam

3. Keesokan harinya air dituang kedalam botol plastic (untuk diminum) dengan menggunakan corong atau saringan yang terbuat dari plastic agar algaenya tersaring.

4. Algae yang sudah diambil airnya lalu dicuci bersih dengan air bersih dan dimasukkan lagi kedalam wadahnya yang juga telah dicuci bersih. Kemudian tambahkan Gula pasir sebanyak 2 sendok the dengan 7buah kismis yang telah dipergunakan sebelumnya (kismis tidak perlu diganti) lalu tambahkan 1liter air.. begitu seterusnya

5. Air yang sudah disimpan dalam botol/gelas siap untuk diminum sebagai obat

6. Kismis keringnya diganti 1minggu sekali

7. Tanpa gula pasir dan kismis serta pemakaian wadah yang terbuat dari Metal dapat menyebabkan kristal Algae-nya mati.

Mudahkan….selamat mencoba dan rasakan khasiatnya….

Pra-Katak

Posted: Juli 19, 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Hai, aku ini hanya seorang mahluk Tuhan yang mencoba untuk keluar dari belenggu stress dan tekanan yang setiap hari hampir selalu menghampiri. Bagai Katak Dalam Tempurung, pikiranku tidak bisa terbuka…karena ikatan dan belenggu dunia yang menuntutku untuk selalu eksis walaupun kadang aku mengeluh. Semoga dengan menulis bebas ini, aku bukan mahluk Tuhan yang biasa disebut dengan ” Terbelenggu”……